Jumat, 19 Februari 2016
makalah ajattapperng
03.46
No comments
NAMA KERAJAAN : ADDATUANG SIDENRENG
NAMA RAJA : H. ANDI PATIROI PAWICCANGI
NAMA PERMAISURI : HJ. ANDI SUBAEDA PETTA BESSE TE’NE
PIMPINAN ROMBONGAN : ANDI SUKRI BAHARMAN, SE.
[Ketua DPRD Sidenreng-Rappang]
PUSAT KERAJAAN : PANGKAJENE SIDENRENG
SEKILAS SEJARAH KERAJAAN SIDENRENG
Oleh: Andi Firdaus Daeng Sirua
Sejarah SIDENRENG diawali terbentuknya sebuah wanua yang disebut AJATAPPARENG, “terletak di sebelah Barat danau Sidenreng” [Ensiklopedia Sejarah Sulawesi-Selatan]. Menurut catatan lontara, dahulu kala, kisahnya berawal ketika DELAPAN BERSAUDARA yang berasal dari Kerajaan Sangalla, Tana Toraja, turun dari sebuah bukit menuju danau secara BERGANDENGAN [dalam bahasa Bugis disebut SIDENRENG]. Mereka lalu memutuskan untuk membuka wanua [kampung] baru di pinggir danau tersebut yang di kemudian hari oleh orang Bone dan orang Soppeng menyebutnya WANUA ri AJANGNA TAPPARENGNGE. Jadi kata Ajatappareng dan Sidenreng adalah dua sebutan yang saling terkait dalam suatu peristiwa.
Setelah sepeninggal delapan bersaudara, BOLAPATINA [putri La Maddaremmeng dari kakak tertua delapan bersaudara yang menetap di Sangalla] mengunjungi Rappang bersama suami yang bernama DATU PATILA dan melahirkan TIGA orang anak yang masing-masing bernama LA MALLIBURENG menjadi penguasa [pertama] di KERAJAAN SIDENRENG, dan WE TIPU ULENG menjadi penguasa [pertama] di KERAJAAN RAPPENG, dan anak yang ketiga diberi kuasa di AJATAPPARENG untuk mengolah sawah La SalamaE [di Teteaji] dan Tappareng yang kini lebih populer disebut Danau Sidenreng. Sementara sebutan wanua Ajatappareng telah berganti nama menjadi TETEAJI yang dahulu secara tradisi merupakan wanua berstatus sebagai TANA IGELLA [Wanua Otonom].
Selanjutnya dikatakan dalam Lontara Panguriseng [milik Andi Thamrin Patara, Tanru Tedong] bahwa antara dua bersaudara, La Mallibureng [Addaoang Sidenreng] dan We Tipu Uleng [Arung Rappeng], membuat perjanjian, yaitu: ‘’mate elei Rappeng, mate arawengi Sidenreng’’, dengan pengertian: “jika Rappang meninggal di waktu pagi maka Sidenreng meninggal di sore hari”. Perjanjian ini bermaksud apabila terjadi perang atau serangan dari pihak luar pada kerajaan Sidenreng, maka kerajaan Rappang akan mendahuluinya.
Pada abad ke XVI M, Sidenreng merupakan kota besar yang terkenal di masanya, berpusat di sebelah Barat Danau Sidenreng. Menurut Manuel Pinto [sejarawan berkebangsaan Portugis], yang pada tahun 1548 sempat menetap 8 bulan di Kerajaan Sidenreng, menggambarkan danau Sidenreng dapat dilayari kapal besar dari laut menuju Sidenreng. Sama halnya Crawfurd, pada tahun 1828 menulis tentang Sidenreng dan menjelaskan situasi kampung-kampung di tepi danau yang merupakan pusat perdagangan luar negeri yang pesat ketika itu. Gambaran demikian telah menjelaskan, bahwa wanua Ajatappareng pernah menjadi pelabuhan transito dan memiliki pasar besar sebagai pusat transaksi perdagangan.
Berbagai literatur menyebut, kerajaan Sidenreng merupakan salah satu dari sejumlah kecil kerajaan yang tercatat dalam kitab La Galigo. Christian Pelras [penulis buku Manusia Bugis] mengungkapkan, “masa La Galigo telah berlangsung pada periode abad 11 dan 13 Masehi”. Artinya, kerajaan Sidenreng termasuk salah satu kerajaan kuno di Sulawesi Selatan dan merupakan kerajaan Bugis yang cukup disegani di masanya.
Dalam buku yang sama [Manusia Bugis], Christian Pelras mengutip Bulbeck [Historical Aechaelogy] dengan mengatakan, bahwa air laut pernah memanjang dari Sungai Cenrana ke arah pegunungan dan terus ke Danau Tempe yang rendah. Situasi itu pernah terjadi pada 7.100 dan 2.600 tahun lalu. Cukup banyak bukti menunjukkan, pada abad ke 16 Masehi, bagian rendah sekitar Danau Tempe dan Danau Sidenreng masih merupakan satu danau yang besar dan luas, namun dalam perjalanan waktu kondisi danau semakin mendangkal.
Seiring perkembangan masa kemudian, wanua Ajatappareng yang dahulu sebagai pelabuhan transito berbagai hasil bumi dari Tana-Toraja, Enrekang, Soppeng, Wajo dan Bone yang diangkut oleh perahu melalui sungai Walanae, danau Tempe dan danau Sidenreng, lalu ditampung saudagar Ajatappareng untuk selanjutnya diangkut lewat darat dengan menggunakan kuda menuju pelabuhan Suppa dan Bacukiki [Pare-Pare], kini semua tinggal KENANGAN yang terlupakan.
Tingkat kemajuan pesat pasar Ajatappareng diperkirakan berlangsung jauh sebelum terjadi Perang Kopi [1860-1898] di Tana-Toraja. Ketika itu, hampir seluruh perdagangan kopi dikuasai saudagar Sidenreng dan Enrekang. Menurut penuturan H. Andi Nasroeddin Daeng Marewa [ayah penulis], kopi yang berasal dari Tana-Toraja sebagian dibarter dengan senjata api yang diimpor dari Singapura, dan bahkan terkadang senjata api ditukar dengan budak.
Tetapi saat pusat perdagangan kopi di Bone dipindahkan ke Luwu oleh Sayed Ali Al Syafii [saudagar kopi terbesar di zamannya, yang berasal dari Mallusetasi/Pare-Pare], memaksa kerajaan Sidenreng untuk melakukan kerjasama dengan pihak penguasa kerajaan Enrekang dan mengatur agar para saudagar Sidenreng tetap mengambil bagian dalam perdagangan kopi. Raja Sidenreng lalu mengutus La Tatu CarawaliE sebagai pemimpin pasukan kerajaan Sidenreng ke daerah Duri, Mamasa, Mandar, Tana-Toraja untuk membawa MISI KERJASAMA antar KERAJAAN.
Jalur utama perdagangan kopi kembali dikuasai saudagar Sidenreng dan Enrekang ketika itu, lalu membangun pemukiman dan pasar baru di Mebali dan Mengkendek, Tana-Toraja. Pada awal abad XX dansaat pendudukan Hindia-Belanda di Tana-Toraja, orang-orang Sidenreng masih ditemukan bermukim di Tanah-Toraja. Begitupun sebaliknya terdapat orang Toraja tinggal di Teteaji [Ajatappareng].
Akibat perpindahan pusat perdagangan kopi di pasar yang baru dibangun orang-orang Sidenreng di Tana-Toraja, maka sejak itu pasar Teteaji surut secara berangsur. Saudagar-saudagar Ajatappareng terpaksa mengalihkan perdagangannya ke Pare-Pare di bidang usaha lain dan bermukim di sekitar pelabuhan Pare-Pare. Tokoh masyarakat asal Teteaji yang terkenal di zamannya adalah H. ALI yang bergerak di bidang perdagangan hasil bumi antar pulau kemudian mendirikan “Firma Ajatappareng” di Pare-Pare dan Makassar pada priode Kabinet Najamuddin Daeng Malewa [Perdana Menteri NIT], lalu membuka perwakilan di Surabaya pada masa Kabinet Ali Sostroamijoyo [Perdana Menteri RIS].
Nama Ajatappareng memang sempat diabadikan lewat dunia usaha, namun kemudian ditelan masa akibat ketidakmampuan para pewarisnya dalam menyesuaikan diri dengan tantangan zaman dan perubahan...
Kini Kerajaan Sidenreng kembali berbenah diri dan mengangkat para ahli waris adat menurut tradisi yang pernah berlangsung, yaitu terdiri:
HADAT TIGA
1. ADDATUANG SIDENRENG [RAJA SIDENRENG]
2. ARUNG RAPPANG [RAJA RAPPANG]
3. ARUNG AJATAPPARENG [RAJA AJATAPPARENG]
HADAT LIMA
1. KADI SIDENRENG [MUFTI SIDENRENG]
2. PABBICARA MASSEPE [PEJABAT TINGGI ISTANA]
3. PABBICARA GURU [PEJABAT TINGGI ISTANA]
4. PABBICARA AMPARITA [PEJABAT TINGGI ISTANA]
5. PABBICARA ARAWA [PEJABAT TINGGI ISTANA]
HADAT DELAPAN
1. MATOA MASSEPE
2. MATOA ARAWA
3. MATOA ALLEKUANG
4. MATOA ARATENG
5. MATOA ALIWUWU
6. MATOA TETEAJI
7. MATOA WATANG SIDENRENG
8. MATOA LISE
Sebagaimana diketahui, Kabupaten Sidenreng-Rappang dikenal sebagai LUMBUNG PADI Sulawesi-Selatan dengan PANDAI BESI di Massepe dan pembuat nisan dari batu alami di Allekuang yang cukup terkenal sejak zaman kejayaan Kerajaan Sidenreng.
penelitian di bola soba
03.40
No comments
LAPORAN HASIL PENELITIAN
“SITUS Tomanurung Dan Bola Soba”
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu
Syarat Penilaian Pada Mata Kuliah Sejarah lokal
DISUSUN OLEH : KELOMPOK III
Koordinator : Kusuma Ningrum ( 1462041001 )
Anggota :
* Miftahul Jannah (1462040022)
*
La Esccah M.P ( 1462041002 )
*
Ulil Amri ( 1462041005 )
*Anugrah S. ( 1462040
*Muazhinul Khair ( 1462040006)
Jurusan Pendidikan Sejarah
Fakultas ilmu sosial
Universitas Negeri Makassar
2015
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah Swt yang memberikan karunia dan hidayah-Nya sehingga
kami dari mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah angkatan 2014 telah
menyelesaikan Study Lapangan Mata Kuliah SEJARAH LOKAL yang diadakan di 5
Kabupaten yaitu KAB.BONE,SINJAI,BULU’ KUMBA,BANTAENG DAN KAB.JENE’PONTO. Salam
dan shalawat juga tak lupa kami limpahkan kepada Nabiullah Muhammad
SAW,beliaulah yang mengantarkan kita
pada zaman yang berilmu, berakhlak dan beradab.
“NO
DOCUMEN NO HISTORY”. Tidak lengkap rasanya jika hanya berjalan dimuka bumi ini
tanpa ada yang bisa dikenang dari perjalanan yang cukup panjang seorang insan
dimuka bumi ini, termasuk dalam perjalanan Study Lapangan kali ini, kami merasa
tidak punya sesuatu yang dapat kami berikan selain bukti berupa tulisan-
tulisan atau dokumen yang akan menggambarkan bagaimana perjalanan dan hikmah
yang dapat kami ambil.
Dalam
menyusun laporan ini kami telah berusaha melakukan yang terbaik dan menuliskan
apa yang menurut kami penting untuk diketahui pembaca utamanya bagi penerus
bangsa serta lebuh terkhusus kepada diri kami sendiri, sehingga perbaikan dan
penyempurnaan penulisan maupun materi kami harapkan dari penyusun laporan
selanjutnya.
Makassar, 12
Desember 2015
Penyusun
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar ………………………………………………………
Daftar
Isi ……………………………………………………….
BAB
I Pendahuluan ……………………………………………………….
A. Latar
Belakang ……………………………………………….
B. Rumusan
Masalah ……………………………………………….
C. Metode Penulisan ……………………………………………….
D. Tujuan
Penyusunan ……………………………………………….
E. Waktu Dan Tempat Pelaksanaan ……………………………….
BAB
II Pembahasan ……………………………………………………….……………………….
BAB
III Penutup …………………………………………………..
A. Kesimpulan …………………………………………………..
B. Saran
…………………………………………………
DAFTAR
PUSTAKA ………………………………………………….
BAB
I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Bone merupakan
salah satu kabupaten dalam lingkup wilayah Propinsi Sulawesi Selatan. Ibukota
Kabupaten ini, Watampone memiliki luas wilayah 4.559 km² dan secara
administratif terdiri dari 27 kecamatan, 333 desa dan 39 kelurahan. Kabupaten
ini terletak 174 km ke arah timur Kotamadya Makassar, berada pada posisi 4°13′-
5°6′ LS dan antara 119°42′-120°30′ BT, pada sebelah utaranya berbatasan dengan
Kabupaten Wajo dan Soppeng, sebelah timur dengan Teluk Bone, sebelah barat
berbatasan dengan Maros, Pangkep dan Barru dan sebelah selatannya dengan
Kabupaten Gowa dan Sinjai.
Sejarah
mencatat bahwa Bone dahulu merupakan salah satu kerajaan besar di nusantara
pada masa lalu. Kerajaan Bone dalam catatan sejarah didirikan oleh Raja Bone
ke-1 yaitu ManurungngE Rimatajang pada tahun 1330, mencapai puncak kejayaannya
pada masa pemerintahan Latenritatta Arung Palakka Matinroe ri
Bontoala, pertengahan abad ke-17. Kebesaran kerajaan Bone tersebut dapat
memberi pelajaran dan hikmah yang bagi masyarakat Bone saat ini dalam rangka
menjawab dinamika pembangunan dan perubahan-perubahan sosial, perubahan
ekonomi, pergeseran budaya serta dalam menghadapi kecenderungan yang bersifat
global.
Belajar dan mengambil hikmah dari sejarah kerajaan Bone pada
masa lalu minimal terdapat tiga hal yang bersifat mendasar untuk
diaktualisasikan dan dihidupkan kembali karena memiliki persesuaian dengan
kebutuhan masyarakat Bone dalam upaya menata kehidupan ke arah yang lebih baik.
Ketiga hal yang dimaksud adalah :
Pertama, pelajaran dan hikmah dalam bidang
politik dan tata pemerintahan. Dalam hubungannya dengan bidang ini, sistem
kerajaan Bone pada masa lalu sangat menjunjung tinggi kedaulatan rakyat atau
dalam terminologi politik modern dikenal dengan istilah demokrasi. Ini
dibuktikan dengan penerapan representasi kepentingan rakyat melalui lembaga
perwakilan mereka di dalam dewan adat yang disebut "Ade Pitue", yaitu
tujuh orang pejabat adat yang bertindak sebagai penasihat raja. Segala sesuatu
yang terjadi dalam kerajaan dimusyawarahkan oleh Ade Pitue dan hasil keputusan
musyawarah disampaikan kepada raja untuk dilaksanakan.
Kedua, yang menjadi pelajaran dan hikmah dari sejarah Bone terletak pada pandangan yang meletakkan kerjasama dengan daerah lain, dan pendekatan diplomasi sebagai bagian penting dari usaha membangun negeri agar menjadi lebih baik. Urgensi terhadap pandangan seperti itu tampak jelas ketika kita menelusuri puncak-puncak kejayaan Bone dimasa lalu. Dan sebagai bentuk monumental dari pandangan ini di kenal dalam sejarah akan perjanjian dan ikrar bersama kerajaan Bone, Wajo, dan Soppeng yang melahirkan TELLUMPOCCOE atau dengan sebutan lain "LAMUMPATUE RI TIMURUNG" yang dimaksudkan sebagai upaya mempererat tali persaudaraan ketiga kerajaan untuk memperkuat posisi kerajaan dalam menghadapi tantangan dari luar.
Kedua, yang menjadi pelajaran dan hikmah dari sejarah Bone terletak pada pandangan yang meletakkan kerjasama dengan daerah lain, dan pendekatan diplomasi sebagai bagian penting dari usaha membangun negeri agar menjadi lebih baik. Urgensi terhadap pandangan seperti itu tampak jelas ketika kita menelusuri puncak-puncak kejayaan Bone dimasa lalu. Dan sebagai bentuk monumental dari pandangan ini di kenal dalam sejarah akan perjanjian dan ikrar bersama kerajaan Bone, Wajo, dan Soppeng yang melahirkan TELLUMPOCCOE atau dengan sebutan lain "LAMUMPATUE RI TIMURUNG" yang dimaksudkan sebagai upaya mempererat tali persaudaraan ketiga kerajaan untuk memperkuat posisi kerajaan dalam menghadapi tantangan dari luar.
Ketiga, warisan budaya kaya dengan pesan.
Pesan kemanusiaan yang mencerminkan kecerdasan manusia Bone pada masa lalu.
Banyak hikmah yang bisa dipetik dalam menghadapi kehidupan, dalam menjawab
tantangan pembangunan dan dalam menghadapi perubahan-perubahan yang semakin
cepat. Namun yang terpenting adalah bahwa semangat religiusitas orang Bone
dapat menjawab perkembangan zaman dengan segala bentuk perubahan dan
dinamikanya.
Dalam perkembangan selanjutnya, Bone kemudian berkembang terus dan pada akhirnya menjadi suatu daerah yang memiliki wilayah yang luas, dan dengan undang-undang Nomor 29 Tahun 1959, berkedudukan sebagai Daerah Tingkat II Bone yang merupakan bagian integral dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kabupaten Bone memiliki potensi besar,yang dapat dimanfaatkan bagi pembangunan demi kemakmuran rakyat. Potensi itu cukup beragam seperti dalam bidang pertanian, perkebunan, kelautan, pariwisata dan potensi lainnya.
Dalam perkembangan selanjutnya, Bone kemudian berkembang terus dan pada akhirnya menjadi suatu daerah yang memiliki wilayah yang luas, dan dengan undang-undang Nomor 29 Tahun 1959, berkedudukan sebagai Daerah Tingkat II Bone yang merupakan bagian integral dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kabupaten Bone memiliki potensi besar,yang dapat dimanfaatkan bagi pembangunan demi kemakmuran rakyat. Potensi itu cukup beragam seperti dalam bidang pertanian, perkebunan, kelautan, pariwisata dan potensi lainnya.
B.Rumusan Masalah
B.1.Situs Tomanurung
A.Apakah Yang Dimaksud
Tomanurung?
B.Bagaimanakah sejarah
berdirinya kerajaan Bone?
C.Siapakah Keturunan
Yang Menggantikan Setelah Wafatnya Raja Pertama Dikerajaan Bone?
B.2.Situs Bola Soba’
A.bagaimana keadaan
bola soba’?
B. dimanakah tata
lokasi bola soba’?
C.Sejarah berdirinya
Bola Soba
C.Metode
penulisan
1.library
research,yaitu penelitian – penelitian yang menggunakan sumber buku yang
ada kaitannya dalam penulisan ini .
2.field research atau
riset lapangan, yaitu terjun langsung kelokasi objek penelitian dengan
mengadakan pengamatan langsung (observation) dan wawancara dengan narasumber
(interview).
D.Tujuan
Penulisan
Adapun
tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:
a.untuk
memenuhi persyaratan mengikuti mata kuliah Sejarah Lokal(SulSel).
b.dapat
menambah pembendaharaan materi tentang sejarah di Sulawesi Selatan.
c.agar
dapat mengenal sejarah lokal daerah Sulawesi Selatan
E.Waktu
dan Tempat Pelaksanaan
Kegiatan penelitian
yang dilakukan oleh Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Makassar adalah agenda wajib yang dilakukan setiap mata
kuliah yang sifatnya wajib dan harus diadakan penelitian secara langsung,akan
tetapi dalam penulisan ini terfokus pada Mata Kuliah Sejarah Lokal,penelitian itu diikuti
oleh seluruh mahasiswa pendidikan sejarah angkatan 2014 yang berjumlah 58 dan dua diantaranya
adalah mahasiswa angkatan 2011 dan 2013.Adapun waktu pelaksanaannya pada
tanggal 13 – 15 september 2015.Tempat pelaksanaan tepatnya di 5 Kabupaten di Sulawesi Selatan tepatnya di
Kab.Bone,Sinjai,Bulu Kumba,Bantaeng,dan Kab.Jene’ Ponto.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.SITUS TOMANURUNG
1.Tentang ToManurung-E
Manurung-E, berasal dari bahasa Bugis yang dalam
terjemahan bebasnya berarti “orang yang turun dari ketinggian“. Dalam
aturan bahasa bugis, khususnya Bugis-Bone, akhiran E dipakai untuk menunjuk
kata kepunyaan, akhiran ‘nya’ dalam bahasa Indonesia. Sehingga akhiran E pada
kata Manurung yang diikutinya akan menunjukkan arti dialah orang yang
turun dari ketinggian.
Kepercayaan
Bugis-Makassar sebelum mengenal Islam, Manurung-E atau Tu Manurung (red.
Makassar) dianggap sebagai perwujudan tuhan, dewa (Bugis-Bone: dewata
seuwwaE); manusia yang turun dari langit, namun bukan sebagai manusia
pertama (Adam). Namun seiring perkembangan zaman dan pengetahuan, sulit rasanya
untuk menerima argumen-argumen to-riolo (nenek moyang). Sejumlah asumsi
yang dibangun oleh ahli sejarah pun tidak cukup memberikan pemahaman yang
memadai kepada kita dikarenakan kurangnya bahan kajian. Satu hal penting yang
disepakati oleh para budayawan adalah bahwa Manurung-E merupakan manusia yang
mempunyai kelebihan dibandingkan manusia lainnya; pandai dan mempunyai wawasan
yang lebih luas dibandingkan masyarakat sekitarnya.
Hal
ini juga dipertegas dalam lontara’ yang mengisahkan adanya sekelompok
masyarakat yang menyambutnya kemudian memintanya untuk menjadi raja/mangkau’.
Oleh sebab itu, disinyalir to manurung sebagai orang suci (saint)
yang sedang dalam perjalanan spiritual. Namun, kemudian terdampar pada sebuah
daerah (bugis) yang ‘kebutulan’ belum memiliki sosok pemimpin/raja.
Berbeda
dengan di daerah lain, sebut misalnya di pulau Jawa, yang banyak meninggalkan
jejak sejarah seperti prasasti yang informasinya dapat bertahan lama. Oleh sebab
itu, lontara’ harus diletakkan pada posisi terdepan sebagai bahan kajian untuk
mengungkap misteri perjalanan suku-suku di Sulawesi.
Tanpa merujuk secara khusus pada I
LA GALIGO,tradisi lisan dan tulis Bugis-Makassar kemudian mengaitkan episode
terakhir yang terkenal dari epos ini dengan datangnya tomanurung.Ketika
rangkaian kedua dari penguasa keturunan dewa hilang dari bumi,sebagaimana pada
episode “terakhir ” I LA GALIGO,versi ini kemudian dilanjutkan dengan periode
tujuh (sebagian mengatakan tujuh puluh tujuh)generasi ketika rakyat tidak
mempunyai pemimpin.periode ini digambarkan dalam tradisi sebagai periode dimana
manusia menjadi seperti ikan,di mana yang lebih besar dan kuat memakan yang
lebih kecil dan lemah.Dalam keputusasaan,rakyat meminta kepada dewa agar
mengirim seorang penguasa ke bumi sekali lagi sehingga kedamaian dan ketertiban
dapat dipulihkan.Permintaan ini terjawab dan seorang tomanurung muncul di
antara rakyat di sebuah tempat terpencil.Menurut tradisi dari berbagai
kerajaan,awalnya tomanurung itu ragu menerima tawaran mereka untuk menjadi
pemimpin.baru ketika jaminnan tertentu dibuat dengan mengakui posisi
istimewanya, tomanurung itu akhirnya melunak.
*sifat
– sifat tomanurung
- Tomanurung tidak dikuburkan apabila meninggal dunia karena tubuhnya menghilang tinggal pakaian dan kerisnya.
- Tomanurung dapat dengan tiba-tiba tidak bisa dilihat sedang berada di dekat kita.
- Tomanurung mempunyai rasa kemanusiaan yang mendalam atau menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
- Tomanurungcakap dan mempunyai wibawa memimpin dan membimbing masyarakat, sangat bijaksana, banyak mengajar rakyat bercocok tanam dan beternak.
- Tomanurung Luas Pengetahuannya, soleh terbukti bimbingannya kepada masyarakat memuja dan menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Karena Tomanurung memiliki sifat-sifat tersebut diatas maka
masyarakat Sulawesi Selatan keturunan TomanurungWija Tau Deceng ( Keturunan
Orang Baik ) dan untuk mengetahui mereka didepan namanya disebut panggilan
PUANG, DATU, KARAENG, MARADIA, ANDI dan lain-lain oleh masyarakat Sulawesi
Selatan.
2.Berdirinya Kerajaan Bone::
Dalam
lontara’ tersebut diketahui bahwa setelah habisnya turunan Puatta Menre’E ri
Galigo, keadaan negeri-negeri diwarnai dengan kekacauan. Hal ini disebabkan
karena tidak adanya arung (raja) sebagai pemimpin yang mengatur tatanan
kehidupan bermasyarakat. Terjadilah perang kelompok-kelompok anang (perkauman)
yang berkepanjangan (Bugis = Sianre bale).
Kelompok-kelompok
masyarakat saling bermusuhan dan berebut kekuasaan. Kelompok yang kuat
menguasai kelompok yang lemah dan memperlakukan sesuai kehendaknya. Keadaan
yang demikian itu, dalam Bahasa Bugis disebut SIANRE BALE (saling memakan
bagaikan ikan). Tidak ada lagi adat istiadat, apalagi norma-norma hukum yang
dapat melindungi yang lemah. Kehidupan manusia saat itu tak ubahnya binatang di
hutan belantara, saling memangsa satu sama lain. Norma-norma hukum tidak
berlaku, adat-istiadat dipasung,. Bone butuh sosok pemimpin, namun dari
kalangan mereka tidak ada yang saling mengakui keunggulan satu sama lain.
Menurut
catatan lontara’, keadaan yang demikian itu berlangsung kurang lebih tujuh
pariyama lamanya. Menurut hitungan lama, satu pariyama mungkin sama dengan 100
tahun. Jadi kalau mengacu pada perhitungan ini maka dapat dipastikan bahwa
turunan Puatta MenreE ri Galigo telah hilang 700 tahun yang lalu. Bone dan
negeri-negeri sekitarnya mengalami kekacauan yang sangat luar biasa. Wallahu
a’lam bissawab.
Ketika
konflik tengah berlangsung, sebuah gejala alam yang mengerikan melanda wilayah
Bone dan sekitarnya. Gempa bumi terjadi demikian dahsyatnya, angin puting
beliung menerbangkan pohon beserta akar-akarnya, hujan lebat mengguyur alam
semesta dan gemuruh guntur diiringi lidah kilatan petir yang menyambar datang
silih berganti selama beberapa hari. Gejala alam seperti ini juga diceritakan
dalam pararaton (Kitab Raja-raja) dan prasasti peninggalan kerajaan Majapahit.
Sesaat
setelah hujan reda, dari ufuk timur muncullah bianglala. Tidak berapa lama, di
tengah padang nampak segumpal cahaya yang menyilaukan mata, muncul sosok
manusia mengenakan pakaian serba putih (pabbaju puteh). Karena tak
seorang pun yang mengenalnya, orang-orang menganggapnya sebagai To Manurung,
manusia yang turun dari langit. Cerita kemunculan To Manurung ini cepat
menyebar di kalangan Kalula. Dan mereka pun mengunjungi Sang Misteri. Para kalula
anang (pemimpin kelompok) kemudian mengorganisir diri berembuk untuk, dan
sepakat, mengangkat To Manurung menjadi raja mereka. Bersama dengan orang
banyak yang berkumpul tersebut, para kalula kemudian berkata,
Kami
semua datang ke sini memintamu agar engkau tidak lagi mallajang
(menghilang). Tinggallah menetap di tanahmu agar engkau kami angkat menjadi
mangkau’. Kehendakmu adalah kehendak kami juga, perintahmu kami turuti.
Walaupun anak isteri kami engkau cela, kamipun akan turut mencelanya asal
engkau mau tinggal.
Orang yang
disangka To Manurung menjawab,
”Bagus
sekali maksud tuan-tuan, namun perlu saya jelaskan bahwa saya tidak bisa engkau
angkat menjadi Mangkau sebab sesungguhnya saya adalah hamba sama seperti
engkau. Tetapi kalau engkau benar-benar mau mengangkat mangkau’, saya bisa
tunjukkan orangnya. Dialah bangsawan yang saya ikuti.”
Orang
banyak berkata,
“Bagaimana
mungkin kami dapat mengangkat seorang mangkau yang kami belum melihatnya?”.
Orang yang
disangka To Manurung menjawab,
”Kalau
benar engkau mau mengangkat seorang mangkau, Saya akan tunjukkan tempat
matajang (terang), disana lah bangsawan itu berada”.
Orang
banyak berkata,
”Kami
benar-benar mau mengangkat seorang mangkau, kami semua berharap agar engkau
dapat menunjukkan jalan menuju ke tempatnya”.
Orang
yang disangka To Manurung bernama Puang Cilaong, mengantar orang banyak
tersebut menuju kesuatu tempat yang terang dinamakan Matajang (berada dalam
kota Watampone sekarang). Gejala alam yang mengerikan tadi kembali terjadi.
Halilintar dan kilat sambar menyambar, angin puting beliung dan hujan deras
disusul dengan gempa bumi yang sangat dahsyat. Setelah keadaan reda, nampaklah
To Manurung yang sesungguhnya duduk di atas sebuah batu besar dengan pakaian
serba kuning. To Manurung tersebut ditemani tiga orang yaitu; satu orang yang
memayungi teddumpulaweng (payung berwarna kuning keemasan), satu orang yang
menjaganya dan satu orang lagi yang membawa salenrang. To Manurung,
”Engkau
datang Matowa?”
MatowaE
menjawab,
”Iyo,
Puang”.
Barulah
orang banyak tahu bahwa yang disangkanya To Manurung itu adalah seorang Matowa.
Matowa itu mengantar orang banyak mendekati To Manurung yang berpakaian kuning
keemasan. Berkatalah orang banyak kepada To Manurung,
”Kami
semua datang ke sini untuk memohon agar engkau menetap. Janganlah (lagi) engkau
mallajang (menghilang). Duduklah dengan tenang agar kami mengangkatmu menjadi
mangkau’. Kehendakmu kami ikuti, perintahmu kami laksanakan. Walaupun anak
isteri-kami engkau cela, kami pun (turut) mencelanya. Asalkan engkau berkenan
memimpin kami”
Manurung
menjawab,
”Apakah
engkau tidak membagi hati dan tidak berbohong?”
Setelah
terjadi tawar menawar, semacam kontrak sosial, antara To Manurung dengan orang
banyak (kalula anang), dipindahkanlah Manurung ke Bone untuk dibuatkan salassa
(rumah). To Manurung tersebut tidak diketahui namanya sehingga orang banyak
menyebutnya ManurungE ri Matajang. Salah satu kelebihannya yang menonjol
adalah jika datang di suatu tempat dan melihat banyak orang berkumpul dia
langsung mengetahui jumlahnya, sehingga digelar Mata SilompoE. ManurungE
ri Matajang inilah yang menjadi mangkau’ pertama di Bone.
Ditetapkannya
penguasa Tomanurung di Bone diikuti dengan pembentukan Dewan Penasehat, Aruppitu (Tujuh Penguasa), yang
terdiri dari pemimpin dari tujuh komunitas. Kemunculan Arumpone (Raja Bone),
“ManurungE ri Matajang Mata SilompoE”, ditandai dengan gejala alam yang
menakutkan dan mengerikan. Terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat,
kilat dan guntur sambar menyambar, hujan dan angin puting beliung yang sangat
keras. Setelah keadaan itu reda, tiba - tiba di tengah padang luas muncul orang
berdiri dengan pakaian serba putih. Karena tidak diketahui asal usul
kedatangannya, maka orang menyebutnya ’Tomanurung’.
Adapun
yang dilakukan oleh ManurungE ri Matajang setelah diangkat menjadi Mangkau’ di
Bone adalah – mappolo leteng (menetapkan hak-hak kepemilikan orang
banyak), mappasikatau (meredakan segala macam konflik horisontal) dan pangadereng
(mengatur tatacara berinteraksi sesama masyarakat). ManurungE ri Matajang
pula yang membuat bendera kerajaan yang bernama woromporong-E berwarna
merah dan putih –mirip bendera Republik Indonesia sekarang.
Setelah
genap eppa pariyama (empat dekade) memimpin orang Bone, dikumpulkanlah
seluruh orang Bone dan menyampaikan,
”Duduklah
semua dan janganlah menolak anakku La Ummasa untuk menggantikan
kedudukanku. Dia pulalah nanti yang melanjutkan perjanjian antara kita (ketika
menunjuk/ngangkat aku sebagai Mangkau’-Bone”.
Hanya beberapa
saat setelah mengucapkan kalimat itu, kilat dan guntur sambar menyambar.
Tiba-tiba ManurungE ri Matajang dan ManurungE ri Toro menghilang dari tempat
duduknya. Salenrang dan teddum-pulaweng (payung kuning keemasan)
turut pula menghilang membuat seluruh orang Bone heran. Oleh karena itu
diangkatlah anaknya yang bernama La Ummasa menggantikannya sebagai Mangkau’ di
Bone.
3. a.KETURUNAN RAJA BONE 1
Manurung-E ri Matajang kawin dengan We Tenri Wale-ManurungE ri Toro. Dari
perkawinan itu lahirlah La Ummasa, We Pattanra Wanuwa, dan We’
Samateppa (lima bersaudara, dua diantaranya tidak tercatat [belum]
ditemukan dalam lontara’).
Namun,
berdasarkan laporan penelitian dari tim Royal Ark diperoleh informasi bahwa hasil perkawinan Manurung-E ri
Matajang dengan We Tenri Wale-Manurung-E ri Toro mempunyai dua orang
putera dan empat orang putri yakni:
- Bolong-Lelang, meninggal masa kanak-kanak;
- La Ummasa To Mulaiye Panreng, yang selanjutnya menjadi Arumpone kedua;
- We’ Tenri Ronrong, meninggal masa kanak-kanak;
- We Pattanra Wanuwa, kawin dengan La Pattikkeng-Arung Palakka. Dari hasil perkawinan ini lahirlah Latenri Longorang, La Saliyu Karampeluwa Pasadowakki yang selanjutnya menggantikan pamannya menjadi Arumpone, We Tenri Pappa yang kawin dengan La Tenri Lampa-Arung Kaju, We Tenri Ronrong kawin dengan dengan La Paonro-Arung Pattiro;
- We Tenri Salogan kawin dengan La Ranringmusu-Arung Otting; dan
- We Arantiega kawin dengan La Patongarang-arung Tanete
Catatan::
Awal
berdirinya Kerajaan Bone atas dasar: musyawarah, diangkat secara langsung oleh
ketua kelompok (anang) -sepadan dengan wakil rakyat di DPR sekarang, pemimpin
diangkat untuk kepentingan bersama bukan atas dasar kepentingan golongan atau kelompok,
dll.
b.Laummasa’ – Petta Panre BessiE Raja Bone ke-2
. La Ummasa digelar pula Petta Panre
BessiE (pandai besi) karena dialah yang mula-mula menciptakan alat-alat dari
besi di Bone. Di samping itu La Ummasa sangat dicintai oleh rakyatnya karena memiliki
berbagai kelebihan seperti ; daya ingatnya tajam, penuh perhatian, jujur, adil
dan bijaksana.
Saudara
perempuannya yang bernama We Pattanra Wanuwa kawin dengan Arung Palakka yang
bernama La Pattikkeng. Konon La Ummasa pernah bermusuhan dengan iparnya selama
tiga bulan dan tidak ada yang kalah. Akhirnya berdamai kembali dan keduanya
menyadari bahwa permusuhan tidak akan membawa keuntungan. Untuk memperluas
wilayah pemerintahannya, La Ummasa menaklukkan wilayah-wilayah sekitarnya,
seperti ; Anro Biring, Majang, Biru, Maloi dan Cellu.
La
Ummasa tidak memiliki putra mahkota yang kelak bisa menggantikan kedudukannya
sebagai Mangkau’ di Bone. Dia hanya memiliki anak perempuan,To Suwalle dan To
Sulewakka dari isterinya yang berasal dari orang biasa atau bukan turunan
bangsawan. Oleh karena itu, setelah dia tahu bahwa We Pattanra Wanuwa akan
melahirkan, La Ummasa menyuruh anaknya pergi ke Palakka ke rumah saudaranya We
Pattanra Wanuwa yang diperisterikan oleh Arung Palakka yang bernama La
Pattikkeng.
Kepada
anaknya To Suwalle dan To Sulewakka, La Ummasa berpesan ; ”Kalau Puammu telah
melahirkan, maka ambil anak itu dan bawa secepatnya kemari. Nanti di sini baru
dipotong ari-arinya dan ditanam tembuninya”.
Tidak
berapa lama setelah To Suwalle dan To Sulewakka tiba di istana We Pattanra
Wanuwa, lahirlah anak laki-laki yang sehat dan memiliki rambut yang tegak ke
atas (Bugis : karang) sehingga dinamakan Karampeluwa. Ketika anaknya dibawa ke
Bone, Arung Palakka tidak ada di tempat dan tindakan itu menyakitkan hatinya.
Sesampainya
di istana Arumpone, bayi tersebut barulah dipotong ari-arinya dan dicuci
darahnya. Bayi itu dipelihara oleh saudara perempuan Arumpone yang bernama We
Samateppa.
Arumpone
La Ummasa mengundang seluruh rakyatnya untuk datang berkumpul dan membawa
senjata perang. Keesokan harinya berkumpullah seluruh rakyat lengkap dengan
senjata perangnya. Dikibarkanlah bendera WoromporongE dan turunlah Arumpone di
Baruga menyampaikan ; ”Saya undang kalian untuk mendengarkan bahwa saya telah
mempunyai anak laki-laki yang bernama La Saliyu Karampeluwa. Mulai hari ini
saya menyerahkan kedudukan saya sebagai Arumpone. Dan kepadanya pula saya
serahkan untuk melanjutkan perjanjian yang pernah disepakati antara Puatta
ManurungE ri Matajang dengan orang Bone”. Seluruh orang Bone mengiyakan
kemudian mangngaru (mengucapkan sumpah setia).
Dilantiklah
La Saliyu Karampeluwa oleh pamannya La Ummasa menjadi Arumpone. Acara
pelantikan itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Dalam acara itu pula
nariule sulolona (selamatan atas lahirnya) dan ditanam tembuninya. Setelah itu
dinaikkanlah La Saliyu Karampeluwa ke LangkanaE (istana).
Sejak
dilantiknya La Saliyu Karampeluwa menjadi Arumpone, maka setiap La Ummasa akan
bepergian selalu menyampaikan kepada pengasuhnya dalam hal ini saudaranya
sendiri yang bernama We Samateppa.
Suatu hari La Ummasa sakit keras
yang menyebabkan ia meninggal dunia, maka digelarlah ; La Ummasa Mulaiye
Panreng (orang mula-mula dikuburkan).
Setelah
La Ummasa meninggal maka digelarlah To Mulaiye Panreng (orang yang mula-mula
dikuburkan). Mangkau’ ini hanya dinaungi dengan kaliyao (tameng) kalau dia
bepergian untuk melindungi dari teriknya matahari.
B.SITUS BOLA SOBA’
1.Keadaan Bola Soba’
SAORAJA atau BOLASOBA dalam bahasa
Indonesia yang berarti Rumah Besar atau Rumah Persahabatan merupakan
salah satu peninggalan sejarah kerajaan Bone masa lalu. Bangunan rumah
panggung yang sarat dengan nilai-nilai sejarah ini masih berdiri kokoh terletak
di Jalan Latenritata, Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Sepintas,
tak ada yang istimewa dengan bangunan yang berdiri di atas lahan seluas hampir
setengah hektar tersebut. Dari luar, tampak hanya sekadar bangunan rumah
panggung tradisional ala masyarakat bugis Bone. Hanya ada papan nama di depan
bangunan serta gapura yang mempertegas identitas bangunan tersebut.
Memasuki
bagian dalam bangunan, tak ada benda-benda monumental yang bisa menjelaskan
secara hirarki dan historis bangunan tersebut. Hanya beberapa perlengkapan
properti kesenian, seperti kostum tari dan gong. Ya, saban hari bangunan
Saoraja atau Bolasoba ini menjadi tempat pelatihan sanggar-sanggar seni yang
ada di kota Bumi Arung Palakka. Selain itu, di bagian lain ruangan terdapat
Langkana atau singgasana raja, bangkai meriam tua, gambar La Tenritata Arung
Palakka Raja Bone ke-15, silsilah dan susunan raja-raja Bone, serta beberapa
benda-benda tertentu seperti guci dan dupa yang sengaja disimpan pengunjung
sebagai bentuk melepas nazar atau dalam bahasa Bugis mappaleppe' tinja'.
2.Lokasi bola soba
Bola
soba telah mengalami tiga kali pemindahan lokasi. Lokasi aslinya, terletak di
Jalan Petta Ponggawae Watampone yang saat ini menjadi lokasi rumah jabatan
bupati Bone di Jalan Petta Ponggawae. Selanjutnya, dipindahkan ke Jalan Veteran
Watampone dan terakhir di Jalan Latenritatta Watampone sejak tahun 1978, yang
peresmiannya dilakukan pada 14 April 1982 oleh Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia (1978-1983) saat itu, Prof Dr. Daoed
Joesoef.
Sebagai
bangunan peninggalan sejarah, Saoraja didesain untuk mendekati bangunan
aslinya. Namun demikian, beberapa bagian juga mengalami perubahan, baik
perbedaan bahan maupun ukurannya. Secara umum, Saoraja yang memiliki panjang
39,45 meter ini terdiri dari empat bagian utama, yakni lego-lego (teras)
sepanjang 5,60 meter, rumah induk (21 meter), lari-larian/selasar penghubung
rumah induk dengan bagian belakang (8,55 meter) serta bagian belakang yang
diperuntukkan sebagai ruang dapur (4,30 meter). Selanjutnya, pada bagian
dinding dan tamping, dilengkapi dengan ukiran pola daun dan kembang sebagai
ciri khas kesenian Islam dengan perpaduan model swastika yaitu sebuah simbol
religius yang memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang kompleks.
Sejauh
ini, Saoraja Bone yang juga menjadi objek wisata sejarah ini banyak
dikunjungi oleh wisatawan, tak hanya dari dalam negeri, bahkan wisatawan
macanegara . Beberapa di antaranya merupakan warga Bone yang merantau dan
mengunjungi Saoraja / Bola Soba untuk melepas nazar dan meninggalkan
benda-benda tertentu sebagai bagian dari pelepasan nazar. Bahkan, beberapa di
antara mereka kerap mengaku masih keturunan Raja Bone ke-31.
Saoraja atau sering dinamai Bola Soba' dahulu
rumah ini menjadi rumah tinggal Panglima Perang Kerajaan Bone. Tepatnya di masa
pemerintahan Raja Bone ke-32 di tahun 1895-1905.
Adalah Andi Abdul Hamid Baso Pagilingi Petta Ponggawae salah seorang putra Raja Bone ke-31 Lapawawoi Karaeng Sigeri menjadikan rumah ini menjadi istana. Namun setelah kerajaan Bone di bawah kekuasaan Belanda, rumah ini beralih fungsi menjadi penginapan. Ya, penginapan para tamu (sahabat) dari kalangan penguasa ketika itu, sehingga seterusnya menjadi lazim dengan sebutan “Bola Soba”.
Adalah Andi Abdul Hamid Baso Pagilingi Petta Ponggawae salah seorang putra Raja Bone ke-31 Lapawawoi Karaeng Sigeri menjadikan rumah ini menjadi istana. Namun setelah kerajaan Bone di bawah kekuasaan Belanda, rumah ini beralih fungsi menjadi penginapan. Ya, penginapan para tamu (sahabat) dari kalangan penguasa ketika itu, sehingga seterusnya menjadi lazim dengan sebutan “Bola Soba”.
Kini, Bola Soba telah menjadi
Obyek wisata ini rumah bersejarah. Lokasi Bola Soba ini, terletak di pusat kota
kelahiran Jusuf Kalla, Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Sayang
Saoraja sebagai situs bangunan bersejarah ini belum difungsikan secara
maksimal. Bahkan jika dibiarkan rumah bersejarah ini akan lapuk dengan
sendirinya.
3.sejarah berdirinya
Bola soba’
Saoraja dibangun
pada masa pemerintahan Raja Bone ke-31, La Pawawoi Karaeng Sigeri
MatinroE ri Bandung (1895-1905) .
La Pawawoi Karaeng Sigeri menggantikan saudaranya MatinroE ri Bolampare’na
menjadi Mangkau’ di Bone. Waktu itu La Pawawoi Karaeng Sigeri sebenarnya sudah
tua, tetapi karena memiliki hubungan baik dengan Kompeni Belanda, sehingga
dirinya yang ditunjuk untuk menjadi Mangkau’ di Bone. Seperti pada tahun 1859
M. La Pawawoi Karaeng Sigeri membantu Kompeni Belanda memerangi Turate dan
ketika kembali dari Turate, pada tahun 1865 M, maka diangkatlah sebagai Dulung
Ajangale. Karena itulah yang dijanjikan oleh Pembesar Kompeni Belanda kepadanya
ketika membantu memerangi Turate.
Keberanian
dan kecerdasan La Pawawoi Karaeng Sigeri dalam berperang menjadi buah tutur
sehingga namanya menjadi populer. Ketika saudaranya We Banri Gau MatinroE ri
Bolampare’na menjadi Mangkau’ di Bone, La Pawawoi Karaeng Sigeri diangkat
menjadi Tomarilaleng di Bone.
Setelah
selesai memerangi Turate, karena La Pawawoi dianggap berjasa dalam membantu
Kompeni Belanda, maka dimintalah untuk menjadi Karaeng di Sigeri. Ketika
Karaeng Bontobonto melakukan perlawanan terhadap Kompeni Belanda, La Pawawoi
Karaeng Sigeri dipanggil kembali oleh Kompeni Belanda untuk membantu meredakan
perlawanan Karaeng Bontobonto tersebut. Perlawanan Karaeng Bontobonto yang
dimulai pada tahun 1868 M. dan nanti pada tahun 1877 M. baru dapat dipadamkan. Setelah
La Pawawoi Karaeng Sigeri meninggal dunia, tidak jelas siapa sebenarnya anak
pattola (putra mahkota) yang bakal menggantikannya sebagai Mangkau’ di Bone.
Baso Pagilingi yang dipersiapkan untuk menjadi putra mahkota, ternyata gugur
dalam pertempuran melawan Belanda di Awo. Pada saaat gugurnya Baso Pagilingi
Petta PonggawaE, La Pawawoi Karaeng Sigeri langsung menaikkan bendera putih
sebagai tanda menyerah.
Rupanya
La Pawawoi Karaeng Sigeri melihat bahwa putranya yang bernama Baso Pagilingi
itu adalah benteng pertahanan dalam perlawanannya terhadap Belanda. Sehingga
setelah melihat putranya gugur, spontan ia berucap ; Rumpa’ni Bone, artinya
benteng pertahanan Bone telah bobol.
Baso
Pagilingi itulah yang dilahirkan dari perkawinannya dengan isterinya yang
bernama We Karibo cucu dari Arung Mangempa di Berru. Karena hanya itulah
isterinya yang dianggap sebagai Arung Makkunrai (permaisuri) di Bone. Ketika La
Pawawoi Karaeng Sigeri menjadi Mangkau’ di Bone, diangkat pulalah putranya Baso
Pagilingi Abdul Hamid sebagai Ponggawa (Panglima Perang).
Awalnya, diperuntukkan sebagai kediaman raja
pada waktu itu sehingga disebut Saoraja. Selanjutnya, ditempati oleh putra La
Pawawoi Karaeng Sigeri yang bernama Baso Pagilingi Abdul Hamid yang
kemudian diangkat menjadi Petta Ponggawae (Panglima Perang) Kerajaan Bone oleh
raja dengan persetujuan Ade' Pitue.
Saat
ditempati oleh Petta Ponggawae, maka hubungan rumah atau timpa’ laja diubah
menjadi empat singkap atau susun setelah sebelumnya lima singkap. Sebab, dalam
tata kehidupan masyarakat Bugis, lima singkap timpa’ laja dalam bangunan rumah
diperuntukkan bagi Rumah Raja dan timpa' laja dengan empat singkap
untuk putra raja.
Seiring
dengan ekspansi Belanda yang bermaksud menguasai Nusantara, termasuk Kerajaan
Bone pada masa itu, maka Saoraja Petta Ponggawae(bola soba) ini pun jatuh ke
tangan Belanda dan dijadikan sebagai markas tentara. Tahun 1912, difungsikan
sebagai penginapan dan untuk menjamu tamu Belanda. Dari sinilah awal penamaan
Bolasoba yang berarti rumah persahabatan atau dalam bahasa Bugis Sao
Madduppa to Pole.Selanjutnya, Bola Soba’ juga pernah difungsikan sebagai istana
sementara Raja Bone pada masa pemerintahan Raja Bone ke-31, La Mappanyukki
Sultan Ibrahim MatinroE ri Gowa, 1931-1946,, menjadi markas Kesatuan Gerilya
Sulawesi Selatan (KGSS), menjadi asrama TNI pada tahun 1957 hingga kemudian
dijadikan sebagai bangunan peninggalan purbakala sampai saat ini.
Daftar
pustaka
Heddy
Shri Ahimsa Putra, 1988, Minawang: Hubungan Patron-Klien Di Sulawesi Selatan,
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Makarausu
Amansyah, Pengaruh Islam Dalam Adat Istiadat Bugis Makassar, Dalam
Bingkisan (thn II, no. 5)
Patunru,
Abdurrazak Daeng, 2004, Bingkisan Patunru, Sejarah Lokal Sulawesi Selatan,
Makassar, Pusat Kajian Indonesia Timur bekerja sama dengan lembaga
penerbitan Universitas Hasanuddin
https://www.google.com/search?q=bola+soba
1.html





