NAMA KERAJAAN : ADDATUANG SIDENRENG
NAMA RAJA : H. ANDI PATIROI PAWICCANGI
NAMA PERMAISURI : HJ. ANDI SUBAEDA PETTA BESSE TE’NE
PIMPINAN ROMBONGAN : ANDI SUKRI BAHARMAN, SE.
[Ketua DPRD Sidenreng-Rappang]
PUSAT KERAJAAN : PANGKAJENE SIDENRENG
SEKILAS SEJARAH KERAJAAN SIDENRENG
Oleh: Andi Firdaus Daeng Sirua
Sejarah SIDENRENG diawali terbentuknya sebuah wanua yang disebut
AJATAPPARENG, “terletak di sebelah Barat danau Sidenreng” [Ensiklopedia Sejarah
Sulawesi-Selatan]. Menurut catatan lontara, dahulu kala, kisahnya berawal
ketika DELAPAN BERSAUDARA yang berasal dari Kerajaan Sangalla, Tana Toraja,
turun dari sebuah bukit menuju danau secara BERGANDENGAN [dalam bahasa Bugis
disebut SIDENRENG]. Mereka lalu memutuskan untuk membuka wanua [kampung] baru
di pinggir danau tersebut yang di kemudian hari oleh orang Bone dan orang
Soppeng menyebutnya WANUA ri AJANGNA TAPPARENGNGE. Jadi kata Ajatappareng dan
Sidenreng adalah dua sebutan yang saling terkait dalam suatu peristiwa.
Setelah sepeninggal delapan bersaudara, BOLAPATINA [putri La Maddaremmeng
dari kakak tertua delapan bersaudara yang menetap di Sangalla] mengunjungi
Rappang bersama suami yang bernama DATU PATILA dan melahirkan TIGA orang anak
yang masing-masing bernama LA MALLIBURENG menjadi penguasa [pertama] di
KERAJAAN SIDENRENG, dan WE TIPU ULENG menjadi penguasa [pertama] di KERAJAAN
RAPPENG, dan anak yang ketiga diberi kuasa di AJATAPPARENG untuk mengolah sawah
La SalamaE [di Teteaji] dan Tappareng yang kini lebih populer disebut Danau
Sidenreng. Sementara sebutan wanua Ajatappareng telah berganti nama menjadi
TETEAJI yang dahulu secara tradisi merupakan wanua berstatus sebagai TANA
IGELLA [Wanua Otonom].
Selanjutnya dikatakan dalam Lontara Panguriseng [milik Andi Thamrin Patara,
Tanru Tedong] bahwa antara dua bersaudara, La Mallibureng [Addaoang Sidenreng]
dan We Tipu Uleng [Arung Rappeng], membuat perjanjian, yaitu: ‘’mate elei
Rappeng, mate arawengi Sidenreng’’, dengan pengertian: “jika Rappang meninggal
di waktu pagi maka Sidenreng meninggal di sore hari”. Perjanjian ini bermaksud
apabila terjadi perang atau serangan dari pihak luar pada kerajaan Sidenreng,
maka kerajaan Rappang akan mendahuluinya.
Pada abad ke XVI M, Sidenreng merupakan kota besar yang terkenal di masanya,
berpusat di sebelah Barat Danau Sidenreng. Menurut Manuel Pinto [sejarawan
berkebangsaan Portugis], yang pada tahun 1548 sempat menetap 8 bulan di
Kerajaan Sidenreng, menggambarkan danau Sidenreng dapat dilayari kapal besar
dari laut menuju Sidenreng. Sama halnya Crawfurd, pada tahun 1828 menulis
tentang Sidenreng dan menjelaskan situasi kampung-kampung di tepi danau yang
merupakan pusat perdagangan luar negeri yang pesat ketika itu. Gambaran
demikian telah menjelaskan, bahwa wanua Ajatappareng pernah menjadi pelabuhan transito
dan memiliki pasar besar sebagai pusat transaksi perdagangan.
Berbagai literatur menyebut, kerajaan Sidenreng merupakan salah satu dari
sejumlah kecil kerajaan yang tercatat dalam kitab La Galigo. Christian Pelras
[penulis buku Manusia Bugis] mengungkapkan, “masa La Galigo telah berlangsung
pada periode abad 11 dan 13 Masehi”. Artinya, kerajaan Sidenreng termasuk salah
satu kerajaan kuno di Sulawesi Selatan dan merupakan kerajaan Bugis yang cukup
disegani di masanya.
Dalam buku yang sama [Manusia Bugis], Christian Pelras mengutip Bulbeck
[Historical Aechaelogy] dengan mengatakan, bahwa air laut pernah memanjang dari
Sungai Cenrana ke arah pegunungan dan terus ke Danau Tempe yang rendah. Situasi
itu pernah terjadi pada 7.100 dan 2.600 tahun lalu. Cukup banyak bukti
menunjukkan, pada abad ke 16 Masehi, bagian rendah sekitar Danau Tempe dan
Danau Sidenreng masih merupakan satu danau yang besar dan luas, namun dalam
perjalanan waktu kondisi danau semakin mendangkal.
Seiring perkembangan masa kemudian, wanua Ajatappareng yang dahulu sebagai
pelabuhan transito berbagai hasil bumi dari Tana-Toraja, Enrekang, Soppeng,
Wajo dan Bone yang diangkut oleh perahu melalui sungai Walanae, danau Tempe dan
danau Sidenreng, lalu ditampung saudagar Ajatappareng untuk selanjutnya
diangkut lewat darat dengan menggunakan kuda menuju pelabuhan Suppa dan
Bacukiki [Pare-Pare], kini semua tinggal KENANGAN yang terlupakan.
Tingkat kemajuan pesat pasar Ajatappareng diperkirakan berlangsung jauh
sebelum terjadi Perang Kopi [1860-1898] di Tana-Toraja. Ketika itu, hampir
seluruh perdagangan kopi dikuasai saudagar Sidenreng dan Enrekang. Menurut
penuturan H. Andi Nasroeddin Daeng Marewa [ayah penulis], kopi yang berasal
dari Tana-Toraja sebagian dibarter dengan senjata api yang diimpor dari
Singapura, dan bahkan terkadang senjata api ditukar dengan budak.
Tetapi saat pusat perdagangan kopi di Bone dipindahkan ke Luwu oleh Sayed
Ali Al Syafii [saudagar kopi terbesar di zamannya, yang berasal dari
Mallusetasi/Pare-Pare], memaksa kerajaan Sidenreng untuk melakukan kerjasama
dengan pihak penguasa kerajaan Enrekang dan mengatur agar para saudagar
Sidenreng tetap mengambil bagian dalam perdagangan kopi. Raja Sidenreng lalu
mengutus La Tatu CarawaliE sebagai pemimpin pasukan kerajaan Sidenreng ke
daerah Duri, Mamasa, Mandar, Tana-Toraja untuk membawa MISI KERJASAMA antar
KERAJAAN.
Jalur utama perdagangan kopi kembali dikuasai saudagar Sidenreng dan
Enrekang ketika itu, lalu membangun pemukiman dan pasar baru di Mebali dan
Mengkendek, Tana-Toraja. Pada awal abad XX dansaat pendudukan Hindia-Belanda di
Tana-Toraja, orang-orang Sidenreng masih ditemukan bermukim di Tanah-Toraja.
Begitupun sebaliknya terdapat orang Toraja tinggal di Teteaji [Ajatappareng].
Akibat perpindahan pusat perdagangan kopi di pasar yang baru dibangun
orang-orang Sidenreng di Tana-Toraja, maka sejak itu pasar Teteaji surut secara
berangsur. Saudagar-saudagar Ajatappareng terpaksa mengalihkan perdagangannya
ke Pare-Pare di bidang usaha lain dan bermukim di sekitar pelabuhan Pare-Pare.
Tokoh masyarakat asal Teteaji yang terkenal di zamannya adalah H. ALI yang
bergerak di bidang perdagangan hasil bumi antar pulau kemudian mendirikan
“Firma Ajatappareng” di Pare-Pare dan Makassar pada priode Kabinet Najamuddin
Daeng Malewa [Perdana Menteri NIT], lalu membuka perwakilan di Surabaya pada
masa Kabinet Ali Sostroamijoyo [Perdana Menteri RIS].
Nama Ajatappareng memang sempat diabadikan lewat dunia usaha, namun kemudian
ditelan masa akibat ketidakmampuan para pewarisnya dalam menyesuaikan diri
dengan tantangan zaman dan perubahan...
Kini Kerajaan Sidenreng kembali berbenah diri dan mengangkat para ahli waris
adat menurut tradisi yang pernah berlangsung, yaitu terdiri:
HADAT TIGA
1. ADDATUANG SIDENRENG [RAJA SIDENRENG]
2. ARUNG RAPPANG [RAJA RAPPANG]
3. ARUNG AJATAPPARENG [RAJA AJATAPPARENG]
HADAT LIMA
1. KADI SIDENRENG [MUFTI SIDENRENG]
2. PABBICARA MASSEPE [PEJABAT TINGGI ISTANA]
3. PABBICARA GURU [PEJABAT TINGGI ISTANA]
4. PABBICARA AMPARITA [PEJABAT TINGGI ISTANA]
5. PABBICARA ARAWA [PEJABAT TINGGI ISTANA]
HADAT DELAPAN
1. MATOA MASSEPE
2. MATOA ARAWA
3. MATOA ALLEKUANG
4. MATOA ARATENG
5. MATOA ALIWUWU
6. MATOA TETEAJI
7. MATOA WATANG SIDENRENG
8. MATOA LISE
Sebagaimana diketahui, Kabupaten Sidenreng-Rappang dikenal sebagai LUMBUNG PADI
Sulawesi-Selatan dengan PANDAI BESI di Massepe dan pembuat nisan dari batu
alami di Allekuang yang cukup terkenal sejak zaman kejayaan Kerajaan Sidenreng.
Jumat, 19 Februari 2016
makalah ajattapperng
03.46
No comments






0 komentar:
Posting Komentar