SEJARAH AUSTRALIA DAN OCEANIA
“LATAR BELAKANG KEDATANGAN EROPA KE AUSTRALIA”
OLEH :
HAERIANTY
RESKI SANI
KUSUMA
NINGRUM
HERMAWATY
NANA
MARHENNY
NURLINDA
RIFKA
MAGFIRAH
ERI
GUSTIAWAN
ILHAM
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Australia
merupakan satu-satunya negara yang mendiami keseluruhan wilayah benua. Berada
di laut Pasifik yang berdekatan dengan Asia dan Kepulauan Pasifik di wilayah
utara, Australia digambarkan sebagai pulau paling besar yang ada di dunia,
sehingga negara Australia menempati posisi ke enam dalam deretan negara dengan
daratan paling luas. Didasari oleh wilayah geografisnya, Australia dijuluki
sebagai the lucky country. Hal ini dikarenakan oleh Australia memiliki
cuaca tropis yang menjadi dambaan bagi orang-orang Eropa. Selain cuacanya yang
baik, Australia juga menyimpan 10% kekayaan biodiversitas dunia dan sejumlah
warisan dunia seperti The Great Barrier Reef. Secara historis, pada awalnya
Australia hanya ditinggali oleh sekumpulan orang-orang Aborigin dan Torres
Islander yang menjadi pribumi asli Australia. Hingga pada tahun 1788, Australia
mulai didatangi penghuni tahanan Inggris yang menjadi akar bagi dibentuknya
negara Australia. Kini, Australia telah berkembang dan digolongkan sebagai
negara maju dengan kekuatan ekonomi yang mempuni. Dengan posisinya yang
strategis tersebut, Australia telah memainkan peran yang penting dalam tatanan
internasional.
Sebelum
didatangi oleh orang-orang Eropa, pada dasarnya terdapat dua suku asli yang
telah mendiami benua Australia sejak 50.000 hingga 120.000 tahun yang lalu.
Kedua suku asli tersebut adalah suku Aborigin dan suku Selat Torres; meski suku
Selat Torres seringkali dikesampingkan. Menurut data tahun 2006 (Dudgeon et.al,
2009:24), kini populasi kedua suku tersebut hanya berkisar pada angka 517.000
jiwa, yakni sekitar 2,5% dari total populasi Australia. Kedua suku ini pada
mulanya kaya akan budaya dan memiliki ratusan bahasa dan dialek yang berbeda.
Suku Aborigin sendiri memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda dengan
suku-suku yang terdapat di Kepulauan Pasifik. Orang Aborigin yang memiliki ciri
fisik berupa kulit gelap, rambut ikal, dan mata cekung ini hidup dalam sistem semi-nomadic.
Perpindahan tempat tinggal suku ini bergantung pada perubahan musim. Suku
Aborigin yang dikenal sebagai pemburu yang andal ini juga memiliki senjata unik
untuk memangsa hewan buruannya, yakni boomerang. Suku ini memiliki kedekatan
terhadap lingkungan dan melihat lingkungan sebagai hasil dari kegiatan
spiritual. Oleh karenanya, kepercayaan menjadi aspek penting dalam kehidupan
suku Aborigin sehingga suku ini tidak bersifat materialistis. Tanah, bagi suku
Aborigin, dipahami sebagai simbol spiritual yang sangat penting bagi keluarga
Aborigin untuk membatasi identitasnya. Sementara, peran wanita dan pria juga
dibedakan berdasarkan kodratnya. Bila pria bekerja berburu, maka wanita
mengerjakan urusan rumah tangga. Tidak jauh berbeda dengan suku Aborigin, suku
Selat Torres yang tinggal di perbatasan Australia dan Papua Nugini juga
memiliki ciri fisik dan sistem sosial yang serupa dengan suku Aborigin. Namun,
sistem perekonomian suku ini berdasarkan oleh subsistensi hasil agrikultur dan
perikanan.
B. Rumusan
Masalah
1.bagaimana kondisi bangsa
Australia sebelum datangnya bangsa Eropa?
2.Apa yang melatar belakangi
datangnya bangsa eropa ke Australia?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Penduduk Australia Sebelum Kedatangan Bangsa Eropa.
Terdapat dua macam kebudayaan yang berkembang
di Australia, pertama yaitu kebudayaan penduduk asli dan kedua kebudayaan yang
berasal dari Eropa (Siboro J., 5:1989). Diperkirakan penduduk asli Australia
ini beasal dari arah utara dan menetap di daerah tersebut sejak 40.000
tahun-an, jadi secara de facto
penduduk asli inilah yang pertama kali menemukan Benua Austrlia. Lalu siapakah
penduduk asli tersebut?
Penduduk Asli Australia
Penduduk asli Australia berbeda
dengan ras-ras besar yang ada di dunia, sehingga mereka dimasukkan dalam ras
tersendiri yaitu ras khusus yang disebut ras Australoid. Secara fisik penduduk
asli ini dapat dikenali dengan ciri-ciri sebagai berikut:
Kulit
berwarna coklat (hitam kalau terbakar sinar matahari), rambut ikal
bergelombang, muka dan tubuh ditumbuhi oleh bulu-bulu yang lebat, dahi sempit
atau mundur, rongga mata dalam, alis mata menonjol, rahang menonjol, mulut
lebar, tulang tengkorak tebal, tinggi badan rata-rata adalah 5 kaki dan 5/6
inchi (Siboro J., 6:1989). Salah satu yang mempunyai ciri-ciri tersebut dan
juga sebagai penduduk asli Australia adalah suku Aborigin.
Pada waktu dahulu Suku Aborigin
bermukim secara terpencar-pencar dan terisolir, hal ini karena kondisi
Australia yang tidak memungkinkan penduduknya untuk saling berinteraksi satu
dengan yang lain. Pada mulanya, mereka hidup dari berburu dan mencari ikan.
Mereka berburu binatang liar seperti kanguru dengan tombak, panah, dan bumerang
yang merupakan senjata khas kaum Aborigin. Ilmu bercocok tanam dan beternak
belum dikenal, karenanya kelompok anak suku Aborigin tidak pernah berkelana
jauh dari sumber-sumber air atau sungai. Rumahnya pun amat sederhana, terbuat
dari susunan ranting pohon dan dedaunan. Dalam masyarakat kesukuannya, mereka
dipimpin oleh kepala suku yang biasanya juga merangkap sebagai dukun suku itu.
Sebutan pemimpin suku ini adalah Pemulwuy, dia adalah Pangeran Diponegoronya
kaum Aborigin (Ratih H., 4:1992). Tugas utama dari Pemulwuy adalah menjaga
semua anggota suku dari Bangsa Asing, tugas lainnya adalah memimpin upacara
keagamaan dan perkawinan.
Hubungan Kaum Aborigin dengan Dunia
Luar
Sebelum Suku Aborigin mengenal
Bangsa Eropa mereka sudah lama saling berhubungan dengan orang-orang Asia.
Diantaranya adalah orang dari Makasar, Jepang, dan Cina. Interaksi tersebut
terjalin tidak secara bersamaan melainkan pada waktu yang berbeda-beda. Orang
Asia datang di Australia tidaklah untuk menjajahnya tetapi untuk kepentingan ekonomi saja seperti
tukar-menukar barang dan mencari barang dagangan.
Dalam hubungannya dengan orang
Makasar, kaum Aborigin sangatlah terbuka hampir tidak ada konflik yang terjadi
diantara keduanya. Orang Makasar datang di Australia khususnya Australia Utara
dengan tujuan mencari tripang untuk dijual kembali ke daratan Cina (Ratih H.,
13:1992). Dalam petualangnya di Australia orang Makasar saling bertukar barang
dengan kaum Aborigin. Orang Makasar dan Bugis membawa makanan, tembakau,
alkohol, pakaian, pisau, dan sebagainya. Sedangkan kaum Aborigin mempunyai
kulit penyu dan kulit mutiara untuk dipertukarkan. Pengaruh orang Makasar
terhadap kaum Aborigin terjadi pada pembuatan kapal, pipa untuk merokok, dan
dalam hal bahasa.
Selanjutnya untuk orang Jepang yang mengunjungi daerah Australia bagian
Timur bertujuan untuk mencari Mutiara. Hubungan orang Jepang dengan kaum
Aborigin cukup harmonis, tidak pernah ada perkelahian diantara keduanya. Hal
ini disebabkan orang Jepang mampu beradaptasi dengan baik kepada kaum Aborigin,
misalnya ketika kaum Aborigin dipekerjakan untuk mencari mutiara maka orang
Jepang memperlakukannya dengan sangat baik. Ketika dalam kehidupan biasa mereka
juga saling membaur menjadi satu, seakan-akan tidak ada perbedaan kelas.
Terakhir yaitu hubungan orang Cina
dengan kaum Aborigin. Tujuan utama orang Cina berkunjung di Australia adalah
untuk mendapatkan emas. Tidak seperti sebelumnya hubungan tersebut tidak
berjalin dengan baik, sering terjadi perselisihan diantara kedunya. Perselisihan
terjadi karena orang Cina kurang bisa beradaptasi dengan penduduk setempat.
Bahkan dalam buku yang ditulis oleh Ratih H. ada orang Cina yang dimakan oleh
penduduk setempat, kanibalisme ini terjadi pada saat upacara kepercayaan.
Dari hubungan orang Asia dengan kaum
Aborigin bisa diketahui terdapat motif yang sama mengenai tujuan
pengunjungannya. Kepentingan ekonomi atau perdagangan sangatlah mempengaruhi
masyarakat dunia untuk berpindah dari tempat satu ketempat yang lain. Dengan
perdagangan juga kebudayaan bisa dikembangkan di berbagai tempat dan
disesuaikan dengan kebudayaan aslinya. Sejarahpun bisa diketahui juga karena
hasil penulisan pelaut-pelaut ketika menjelajah ke daerah-daerah baru dengan
kepentingan utama untuk berdagang.
B. Latar belakang kedatangan
Bangsa Eropa ke Benua Australia
Selama abad ke- 15 dan ke- 16 suatu rangkaian peristiwa
penting membuka jalan laut baru dari Eropa ke “Dunia Timur” dan ke
“daerah-daerah baru” (Siboro J., 10:1989). Rangkaian peristiwa tersebut berupa
perbedaan pendapat mengenai ”Terra
Australis Incognita”. Perbedaan pendapat
ini tidak secara langsung dilakukan oleh tokoh-tokoh yang ada didalamnya
seperti Ptolemay, Lactantius, Santa Agustinus, Cosmos Indicopleustes dan
sebagainya. Mereka semua hanya mempunyai pandangan bahwa bumi itu berbentuk
datar dan pandangan bumi itu bulat dengan dasar dari kitab suci serta yang
menolak bumi itu datar berdasarkan Ilmu Pengetahuan yang ada.
Berbagai peta telah dibuat oleh ahli geografi baik yang
menerima bahwa bumi itu datar dan yang menolak argumen tersebut. Tetapi kedua
kalangan ini sama-sama belum mengetahui apakah ada benua Australia atau tidak.
Belum ada seorang yang pernah menuliskan bahwa telah menemukan benua tersebut,
yang ada hanyalah argumen-argumen dari tokoh-tokoh atau ilmuwan. Akhir
perbedaan pendapat ini adalah meninggalnya tokoh yang sangat berpegang teguh
dengan argumennya serta mulai ditemukannya tanda-tanda adanya ”Terra Australis Incognita” oleh
pelaut-pelaut Eropa.
Secara geografis Benua Australia sangat dekat dengan Benua
Asia, namun kebudayaan yang ada di Australia hampir sama dengan kebudayaan di
Eropa. Aneh memang, tetapi hal ini bisa terungkap jika kita melihat bagaimana
sejarah Australia ketika dikunjungi oleh pelaut Eropa. Ada cukup banyak pelaut
dari bangsa asing yang ingin menjelajahi pelosok-pelosok Australia, baik dari
Bangsa Asia maupun Bangsa Eropa. Motifnya sama yaitu untuk kepentingan
perekonomian atau perdagangan. Tetapi Bangsa Eropa lebih mengharap banyak dari
sumber daya alam di Australia yang akhirnya mereka mengakui bahwa daerah
tersebut adalah kekuasaannya. Dan berikut sekilas latar belakang kedatangan
Bangsa Eropa yang mengunjungi Australia.
Pelayaran yang Dilakukan oleh Bangsa
Portugis dan Bangsa Spanyol
Banyak pedagang Eropa bersing untuk mendapatkan keuntungan
dari perdagangan barang-barang seperti rempah-rempah, emas, sutera dan
sebagainya yang dibutuhkan oleh orang-orang Eropa. Termasuk juga Bangsa
Portugis dan Spanyol yang dari dahulu identik dengan kesuksesan pelautnya dalam
mengarungi samudra dan menemukan daerah baru. Bartholomeus Diaz adalah pelaut
Portugis yang mampu mencapai sebuah tanjung yang kemudian dikenal sebagai
tanjung pengharapan baik. Ada lagi Vasco De Gama yang mencapai India sekitar
abad 15. Mereka yang memberikan kesempatan bagi bangsanya untuk mendapatkan
barang dagangan dengan melakukan pelayaran sesuai jalur yang telah dilalui
sebelumnya. Sehingga pelaut Portugislah yang telah membuka jalan bagi pelaut
bangsa Eropa lain untuk menemukan Benua Australia.
Setelah jalan menju Daerah Timur telah ditemukan ada tokoh
bernama Christopher Columbus yang mempunyai tujuan pelayaran mempersingkat
jalan menuju daerah Timur. Dia bekerja untuk kedinasan Spanyol dengan berlayar
ke arah barat Eropa karena menganggap jika bumi itu bulat maka pelayaran terus
ke arah barat akan sampai di Daerah Timur. Namun Columbus belum pernah sampai
ke tempat tujunnya, dia memang sampai di sebuah daratan yang di anggap Daerah
Asia namun tanpa disadari daratan tersebut aslinya adalah Amerika pada saat
ini. Dari pengalaman tersebut pelaut lainnya terus bekerja keras mencari jalan
lain menuju Timur. Banyak yang gagal dalam melakukannya tetapi tanpa usaha
apapun maka tidak akan ada hasilnya pula.
Selanjutnya ada perwira dari Portugis yang bekerja di Spanyol
bernama Pedro Fernandes De Quiros yang melakukan ekspedisi berlayar menuju
Timur untuk setidaknya mengetahui adanya Benua Australia. Dalam ekspedisinya
itu dia menuliskan hasil pelayarannya selama bertahun-tahun sampai akhirnya
menemukan daratan yang dicari-cari atau Terra
Australis Incognita. Setelah ditindak lanjuti tulisan tersebut, pada
kenyataannya dia belum pernah menumukan Daerah Australia bahkan melihatnya dari
kejahuanpun belum pernah. Tetapi dengan pelayaran dari Bangsa Portugis dan
Spanyol ini memberikan jalan mudah kepada Bangsa Eropa lain untuk menemukan Terra Australis Incognita.
Pelayaran dan Penemuan yang
Dilakukan oleh Bangsa Belanda
Pelaut Belanda menjadi orang Eropa
pertama yang bisa dikatakan menjadi penemu benua Australia. Tokoh yang berhasil
menemukannya adalah William Jansz, dia merupakan seorang gubernur kolonial yang
handal dalam bidang navigasi dan dipekerjakan Kerajaan Belanda. William Jansz
berlayar menjelajah Australia dan sekitarnya dengan sebuah kapal bernama Duyfken. Kapal tersebut berlayar dari
salah satu pos Belanda dengan tujuan utama menyelidiki pantai selatan Irian.
Dalam rangkaian pelayaran tersebut, dia kemudian melabuhkan kapalnya sejenak di
sebuah sungai bernama Pennefather yang terletak di pesisir barat Tanjung York
Queensland. Berlabuhnya kapal inilah yang dicatat dunia sebagai kunjungan
pertama di Australia ((http://penemu-ilmuwan.blogspot.com/2013/08/tokoh-penemu-benua-australia-willem.html).
Setelah William Jansz menemukan
Australia maka pelaut Belanda lain melakukan berbagai ekspedisi guna menjelajah
lebih jauh di daratan tersebut. Ekspedisi itu dipimpin oleh seorang pelaut yang
berpengalaman yaitu Abel Tazman. Tazman
ini memulai pelayarannya dari Batavia (Jakarta) pada tahun 1642 dengan
menggunakan dua kapal yaitu Heemskrek dan
Zeehaen. Pada tahun yang sama dia
menemukan daratan yang disebut Van
Diamen’s Land, atau yang saat ini adalah Daerah Tasmania. Cukup banyak
daerah baru yang ditemukan oleh Tazman melalui pelayarannya sampai diapun
kembali ke Batavia lagi pada tahun 1643.
Tidak berhenti sampai disitu Abel
Tazman selanjutnya melakukan ekspedisi kedua pada tahun 1644. Tujuan Tazman
kali ini adalah diperinthkan untuk menyelidiki passage antara Irian dengan
daratan di sebelah selatannya. Namun tujuan utamanya tetaplah mencari barang
berharga seperti emas dan perak guna meningkatkan perekonomin Belanda. Dengan
berbagai alasan yang kurang jelas, Tazman kembali ke Batavia dengan kegagalan
mencari passage tersebut. Setelah ekspedisi kedua ini Belanda menggunakan nama New Holland kepada daratan Australia dan
tidak melakukan ekspedisi lagi karena hasil yang diharapkan tidak bisa
tercapai.
Pelayaran dan Penemuan yang
Dilakukan oleh Bangsa Inggris
Setelah ekspedisi Tasman II gagal
menemukan daerah passage, daratan Australia jarang dikunjungi lagi oleh pelaut
Eropa. Selama masa vakum tersebut Bangsa Inggris mulai berpikir untuk
menjelajah Australia. Orang Inggris yang melakukan penjelajahan itu adalah William Dampier. Sebenarnya dia adalah
seorang bajak laut, tetapi dia mampu menuliskan hasil pelayarannya untuk
diserahkan kembali di Inggris supaya bisa menjadi referensi daratan yang bisa
dikuasai. Akhirnya untuk menindak lanjuti laporan William Dampier, Bangsa
Inggris melakukan ekspedisi ke Australia dengan dipimpin oleh James Cook. Dari
James Cook inilah berbagai daerah-daerah penting yang tidak bisa terpecahkan
Belanda mampu dengan baik diselesaikan olehnya.
Memang pada hakekatnya orang Belanda adalah orang Eropa
pertama yang menemukan Australia, tetapi dunia mengakui bahwa yang berhasil
menemukan Australia adalah James Cook. Mengapa bisa demikian?. Setelah
diselidiki ternyata James Cook adalah orang pertama Eropa yang menancapkan
Bendera Inggris sekaligus mengklaim daerah tersebut termasuk kekuasaan
bangsanya dan menemukan daerah-daerah penting. Dengan ditemukannya daerah
penting yang sebelumnya tidak terpecahkan oleh Belanda, James Cook dianggap
penemu Benua Australia dan mendapat julukan “the real discoverer of the real
Australia that we know” (Siboro J., 25:1989).
Dari James Cook tersebut masyarakat
dunia mulai mengenal Benua Australia atau Benua Kanguru. Terlepas dari siapa
penemu asli Benua Australia kita bisa menyadari bahwa sejarah perdagangan dunia
telah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan jaman. Sejarah tidak
pernah lepas dari ekonomi, ekonomi dan sejarah juga tidak pernah lepas dari
ilmu-ilmu sosial. Sehingga pada hakekatnya ilmu-ilmu sosial sangatlah terkait
satu sama lain.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Terra
Australis Incognita, New Holland, Australia, Benua Kangguru merupakan
sebutan masyarakat mengenai Benua Australia. Bangsa Asia seperti Indonesia,
Jepang, dan Cina merupakan bangsa asing non Eropa yang menjelajahi Australia
dengan tujuan mencari barang dagang. Interaksi penduduk asli yaitu Suku
Aborigin dengan orang Asia terjalin dengan baik sehingga tidak terjadi
pergolakan. Sedangkan Bangsa Eropa seperti Portugis, Spanyol, Belanda, dan
Inggris merupakan Bangsa yang menjelajah di Australia dengan tujuan kepentingan
ekonomi sampai mengakui daerahnya menjadi milik bangsanya sendiri. Hal tersebut
membuat suku Aborigin menjadi tersisih dan kehilangan eksistensinya. Akibatnya
kebudayaan Aborigin yang telah menempati Daerah Australia selama ribuan tahun
lalu hanya sebagai keunikan saja, sedangkan kebudayaan Eropa yang berkembang
sangat pesat mendominasi budaya sebelumnya hingga saat ini.
Sejarah tidak akan pernah lepas
dengan kepentingan ekonomi khususnya dalam hal perdagangan. Pengetahuan dan
ilmu-ilmu saat ini juga berkembang dengan pesat karena karya pelaut-pelaut yang
menjelajah untuk perdagangan. Mobilitas umum di dunia sehingga kebudayaan
menjadi tersebar juga karena pergerakan diperdagangan. Sehingga saat ini tidak
mengherankan jika perdagangan bebas mulai diterapkan di dunia. Untuk itu
sebaiknya kita belajar sejarah dan menerapkan taktik perdagangan masa lampau
supaya masih bisa eksis dalam persaingan global.
B.
Saran
Semoga
melalui makalah ini dapat memberi manfaat bagi pembaca. Oleh karena itu, kritik
dan saran kami butuhkan demi perbaikan penulisan.
DAFTAR
PUSTAKA
Anneahira. Sejarah Australia. Online (http://www.anneahira.com/sejarah-australia.htm) diakses pada 30 Januari 2014.
Hardjono,
Ratih. 1992. Suku Putihnya Asia
(Perjalanan Australia Mencari Jati Dirinya). Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Siboro, J.
1989. Sejarah Australia. Jakarta:
Departemen pendidikan dan Kebudayaan direktorat Jendra Pendidikan Tinggi.
Wikipedia,
Pribumi Austraia. Online
(http://id.wikipedia.org/wiki/Pribumi-Australia) diakses pada 30 januari 2014.
Penemu ilmuwan. Tokoh Penemu Benua Australia: Willem Jansz. Online (http://penemu-ilmuwan.blogspot.com/2013/08/tokoh-penemu-benua-australia-willem.html) diakses pada 30 januari 2014






0 komentar:
Posting Komentar